Investasi Pahala. Gimana caranya?

Tulisan ini saya kutip dari mailing list (pakguruonline). Tulisan sangat mengilhami kita cara berinvestasi pahala. Cerita ini mirip sebuah cerpen, atau kisah ayat-ayat cinta:

Rabu pagi, tanggal tiga Februari merupakan hari pertama saya mengikuti tahsin al-Quran ke Syeikh Asyraf di masjid Jafariyyah, kawasan Darassah (kawasan yang berdekatan dengan masjid Al-Azhar, Masjid Husein dan pasar Khan Khalili). Sejak tahun lalu, saya ingin sekali setiap pagi bisa membaca al-Quran ke sana. Akan tetapi, karena ujian dan kesibukan yang lainnya membuat semua keinginan itu menjadi kandas di perempatan jalan.

Setengah delapan pagi bersama dua kakak saya, akhirnya saya meluncur ke masjid itu. Pagi itu kami menaiki bus yang sebenarnya tidak melewati rute tujuan, namun jalur bus itu berdekatan dengan jalan menuju kawasan Darrasah. Dengan menaiki mobil itu kami berharap dapat menghemat waktu dan bisa cepat sampai. Terpenting lagi, dengan datang lebih awal saya dapat membaca al-Quran dan dikoreksi lebih banyak.

Setelah naik, ternyata ada beberapa bangku yang kosong di deretan paling belakang. Saya pun duduk sembari mengulang bacaan yang hendak dibacakan ke Syeikh Asyraf nantinya. Lantara duduk di bangku paling akhir, berdekatan pintu bus, angin jalan pun masuk dengan leluasa menerpa kami. Dinginnya membuat saya menggigil pagi itu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba penumpang yang duduk di depan kami turun hingga beberapa kursi pun menjadi kosong. Tanpa pikir panjang akhirnya kami meloncat ke depan. Saya terus asyik mendengar muratal Syeikh Khalil Khushori sembari melihat teks al-Quran, tanpa terasa kami pun sampai ke persimpangan tempat menyambung mobil kedua.

Ketika saya hendak melangkah turun, tiba-tiba saja seorang wanita bercadar hitam, duduk di kursi sebelah kiri belakang saya, menghambat dan menyodorkan sebuah mushaf hadapan saya. Saya kaget bukan kepalang. Secara reflek saya pun memberikan isyarat dengan menunjuk ke diri saya, “Ana…?” —Saya …?—. Wanita bercandar itu pun paham dengan yang saya maksudkan, dan kembali menegaskan maksudnya, “Na`am, inta khuzd…!” (benar, kamu ambil ini!). Karena tidak mau terlambat turun dari bus, tanpa pikir panjang al-Quran merah plus pakai resleting itupun akhirnya saya ambil.

Sebenarnya ketika di atas bus saya bingung, antara ngambil atau tidak. Masak saya tidak kenal, main sikat saja pemberian orang lain. Di samping itu, saya juga telah memiliki al-Quran, kendatipun saya masih membutuhkan sebuah al-Quran berukuran lebih besar dan dilengkapi tajwid. Tidak mau memperpanjang kalam yang berakibat dan menuai akibat fatal. Akhirnya saya putuskan untuk menerimanya.

Saya kembali merenung dan bertanya-tanya, kok tiba-tiba akhwat bercandar itu memberikan saya sebuah al-Quran. Saya teringat dengan firman Allah dalam surat at-Thalaq: “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 2-3). Apa itu jawaban dari apa yang saya butuhkan? Wallahu a`lam bisshawab

Ketika sampai di rumah, saya pun menceritakan apa yang saya alami. Salah seorang kakak saya bilang, wanita itu barangkali ingin mendapatkan pahala dengan memberikan al-Quran itu. Bisa jadi selama di bus itu, dia memperhatikan komat-kamit mulut saya ketika membaca al-Quran. Benar juga itu. Saya teringat dengan sebuah hadis Rasulullah:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : { ألم } حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)

Akhirnya saya berkesimpulan, berarti wanita bercadar itu ingin berinvestasi pahala melalui bacaan al-Quran saya. Bukankah Islam mengajarkan, siapa yang menunjukan atau mengajarkan sebuah amal kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sama dengan orang yang melakukannya. Investasi. Begitu juga halnya dengan pahala bacaan al-Quran yang saya dapatkan, tidak akan berkurang sepeser pun kendati telah dibagi-bagi kepada orang lain. Sungguh Islam adalah agama yang sangat sempurna. Iam Proud To Be Moslem.

Ujian Nasional Sebulan Lagi

Ujian Nasional Sebulan Lagi

Tak terasa kira-kira sebulan lagi UN atau ujian nasional akan kembali di gelar di seluruh Indonesia untuk siswa SMA dan SMP. Ketetapan MA hanya jadi suatu saran perbaikan pelaksanaan UN belaka. Sejauh mana pemerintah telah memperbaiki pelaksanaan dan kesiapan sekolah dalam menyiapkan siswa untuk menghadapi UN tahun ini tidak bisa dipastikan. Mungkinkah persiapan dan pemerataan itu bisa dilakukan hanya beberapa bulan?
Memang tak sedikit siswa maupun pakar pendidikan yang menolak pelaksanaan UN. Yah cuma ibarat anjing menggonggong UN tetap berlalu. Gak tahu ya, apakah pemerintah benar-benar menyadari prinsip keadilan dalam penerapan UN yang merupakan salah satu wujud evaluasi. Jika tujuan awal UN adalah untuk memetakan kualitas pendidikan apakah wajar dijadikan dasar kelulusan tanpa mempertimbangkan proses yang berlangsung selama 3 tahun? Apakah perbaikan kondisi pendidikan dan persiapan UN ini sudah masuk program 100 hari atau 100 hari kedua? Wallahu alam..

Ujian Nasional

Apakah pemerintah mempertimbangkan psikologi siswa yang berada di daerah bencana, seperti Sumatra Barat, Jambi, Jawa Barat, Sulawesi dan Papua. Adilkah siswa yang masih trauma, belajar dibawah tenda (tentu panas), harus disamakan dengan siswa yang dapat belajar dengan tenang, tanpa was-was gempa.
Untuk siswa di Padang dan Pariaman, kondisi psikologi mereka sangat terganggu dengan kondisi saat ini. Jangankan mereka, guru pun masih was-was dan tidak tenang, gempa yang masih menggoyang, isu gempa dan tsunami selalu terdengar, sosialisasi gempa dan evakuasi tsunami dari pemda setiap hari terdengar seakan-akan sudah jadi makanan harian…..
Siapkah psikologi mereka?

Semoga Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, dan Sumatra Barat umumnya, serta seluruh wilayah Indonesia selalu aman.

Semoga para pemimpin bangsa lebih arif dan bijaksana.
Amin.
Sukses pendidikan Indonesiaku.

Cancellation of ICLLT-1

Cancellation of ICLLT-1

English Department of Faculty of Languages Letters and Arts (FBSS) of State University of Padang (UNP) finally announced that the International Conference on Language and Language Teaching (ICLLT-1) canceled. This information was given and signed by the chairperson and secretary of the committee. It was planned to conduct this conference on the end of February 2010, however, because of Padang condition it must be canceled. Here’s the letter of the committee.

Dear candidate presenters and participants of ICLLT-1,

It has been announced that the First International Conference on Language and Language Teaching (ICLLT-1) was postponed from October 16 – 17, 2009 to February 26 – 27, 2010. We wish that the recovery and renovation post-earthquake in Padang could be held in 3 – 6 months. However, the committee still cannot prepare and find convenient places and accommodations for the conference. Padang still needs 1 – 2 years to go to have recovery. Moreover, the psychological conditions to hold the seminar are not supporting yet. There are still hot issues of upcoming earthquake and tsunami.

In accordance with this, we are very sorry to announce again that the ICLLT-1 cannot be held at the planned time; it should be canceled, then. The English Department plan to have another seminar or conference in 2011 so that we can meet on it later. Once the date is decided, we will contact you soon.

For those presenters and participants who have made the payment for registration, please e-mail the committee your account number. We will return the money as soon as possible.

Thank you for your understanding and we are very sorry for this inconvenience.

Sincerely yours,

Committee of ICLLT-1

Chairman Secretary,

Prof. Dr. Anas Yasin, M.A Dr. Kurnia Ningsih, M.A

The OXFAM Scholarship for the Youth

The OXFAM International Youth Partnership

By: Havid Ardi

This info was based on an email by a senior alumna of English Department UNP in the mailing list of jurdikbir who announced that there is a wonderful opportunity to be part of Oxfam International Youth Partnerships (OIYP). She inform about an application form for young people aged 18-25 who wants to apply to be part of this unique Program.  OIYP only opens applications every 3 years. It also encourages more than one applicant from each organization or community group.

Applicants will be informed of their selection by mid April 2010.  At this point, we will inform successful applicants (Action Partners) of how OIYP will support them to attend the OIYP Kaleidoscope 2010 event.  There is a limited scholarship pool which will be allocated to support travel costs for many of the top selected Action Partners.  However some Action Partners may be required to fundraise for travel costs, in these cases OIYP will provide support letters and training on fundraising.  There is no registration fee for OIYP.

Below is more information about OIYP and who we seek to work with for the next 3 years. I hope this helps you to identify the young people who would really value this opportunity. I appreciate your support in helping to promote this opportunity by getting the application form into the hands of appropriate young people.

What is OIYP?

Oxfam International Youth Partnerships (OIYP) is an Oxfam International initiative, managed by Oxfam Australia since 2000.  OIYP strengthens young people’s ability to effect change in their community, and provides a base from which they can influence broader changes through engagement in a global network of over 1100 OIYP Action Partners.

Through the next 3 year OIYP Program, OIYP 2010 – 2013, Oxfam Australia will provide opportunities and support for 300 new Action Partners so they may demonstrate leadership and expand the influence of youth for positive changes locally, nationally and globally.

For more information about the Oxfam International Youth Partnerships (OIYP) Program, please visit our website www.oiyp.oxfam.org.

Who are we looking for?

Every 3 years OIYP goes through a rigorous process of recruiting and selecting a new group of 300 Action Partners.  To be eligible to apply, applicants must be aged 18-25, able to speak English or Spanish conversationally and available to attend an 8 day event in November 2010, in New Delhi, India.

Core selection criteria:

  • Commitment to finding new ways of working
  • Evidence of commitment to positive, equitable and sustainable change
  • Ability to explain their own understanding of the issues they’re working on
  • A commitment to personal reflection and developing self awareness
  • Community or organizational support

OIYP is open to all nationalities, Indigenous and ethnic groups.  It is open to young people with any level of education and who live in rural or urban areas.  We have a strong focus on the participation of Indigenous young people and those marginalized in their communities.

For the 2010 – 2013 OIYP Program, Oxfam is specifically targeting young people who:

  • Are active on gender justice
  • From communities impacted by climate change
  • Living with a disability
  • Using innovative means to influence decision makers (locally or nationally)
  • Are from minority Indigenous groups

Applying to be part of OIYP

Application forms in word and PDF format are available by visiting www.oiyp.oxfam.org and the English version is attached to this email.  Applications will be assessed against selection criteria by Oxfam Australia staff; staff from other Oxfam affiliates; youth partners and current OIYP Action Partners.

Applications close on 12 February 2010.

Get the Application

Please feel free to contact me in this email or Marisa (marisaf@oxfam. org.au) directly if you would like to discuss OIYP further or if you have any specific questions about the application form.

Indah Amaryllis Kosasih | Recruitment Volunteer | Oxfam International Youth Partnerships

Oxfam Australia | Level 3/25 Cooper St Surry Hills 2010 | PO Box 1711 Strawberry Hills 2012

Tel: +61 2 8204 3905 | Fax: +61 2 9280 3426 | www.oxfam.org. au

Bookmark and Share

Code Switching atau Code Mixing?

Code Switching atau Code Mixing?

Sebenanya perbedaan antara
code switching, code mixing, loan word, borrowing word itu apa sih
….

Itulah pertanyaan dari seorang mahasiswa yang ingin tahu beda antara beberapa istilah linguistik “code-switching, code-mixing, loan word, dan borrowing word”.

Sebenarnya perbedaan mendasar antara code switching (alih kode) dan code mixing (campur kode) berada pada tataran jumlah kata atau satuan lingualnya penggunaan bahasa tersebut.

Code Mixing (campur kode)
Misalnya:
kalimat : This morning I hantar my baby tu dekat babysitter tu lah

Berdasarkan contoh ini terjadi campur kode (code mixing) karena penutur mencampurkan kedua bahasa (code) dalam satu kalimat. Pada campur kode berarti ada bahasa yang dominan dipakai, misal di atas dominan menggunakan bahasa Inggris. Pidato pejabat misalnya dominan bahasa Indonesia namun disisipi sesekali dengan bahasa asing agar terlihat lebih keren atau berterima.

Campur kode ini dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Campur kode ke dalam (innercode-mixing):
Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya (formal, baku, informal, tidak baku)
2. Campur kode ke luar (outer code-mixing): campur kode yang berasal dari bahasa asing.

Latar belakang terjadinya code switching dapat dibagi dua, yaitu
1. sikap (attitudinal type), latar belakang sikap penutur
2. kebahasaan(linguistik type), latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.

Wujud campur kode ini bisa:
1. penyisipan kata,
2. menyisipan frasa,
3. penyisipan klausa,
4. penyisipan ungkapan atau idiom, dan
5. penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing).

Alih Kode (code switching)

Sementara alih kode (code switching) memang penutur mengalihkan bahasa yang digunakannya. Misalnya pada jawaban yang diberikan kemarin diawali dengan bahasa Indonesia. Namun karena perkiraan Hetty sebagai mitra tutur memahami bahasa Inggris akhirnya dialihkan ke bahasa Inggris. (biar keliatan keren juga kali he 2x)
Alih kode ada dua jenis: 1 alih kode ekstern (Misal Inggris ke Indo), 2. alih kode intern (misal bahasa Jawa Ngoko ke Kromo).

Jadi perbedaan prinsipil antara code switching dan code mixing begitu. Code mixing terjadi ketika penutur mencampurkan/menyisipkan kata-kata asing (other code) dalam bahasa yang dominan digunakannya, ya termasuk penggunaan istilah asing agar nampak intelek.
Sementara code switching, penutur mengganti bahasa yang digunakannya ke code yang lain (termasuk ragam) karena pertimbangan (1) lawan bicara. (2) penutur sendiri, (3) hadirnya penutur ketiga (misal orang Jawa sama orang Jawa terus datang orang ketiga dari Sumatra maka mereka alih kode ke bahasa Indonesia), (4) menimbulkan rasa humor, atau (5) meningkatkan gengsi.

Hal yang sama dari code switching dan code mixing, ya keduanya lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Perbedaannya alih kode (code switching) terjadi antara bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu, sementara campur kode (code mixing) terjadi pada suatu kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar. Sebagai contoh penutur menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa tutur menyisipkan unsur bahasa Minang, sehingga tercipta bahasa Indonesia keminang-minangan.

Thelander membedakan alih kode dan campur kode, apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Tetapi apabila dalam suatu peristiwa tutur klausa atau frasa yang digunakan terdiri atas klausa atau frasa campuran (hybrid clauses/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsinya sendiri maka disebut campur kode.

Sementara fenomena “borrowing word and loan word” biasa dikenali dalam istilah penerjemahan. Teknik borrowing ini biasanya dilakukan penerjemah ketika ia mengalami kesulitan dalam menemukan padanan atau bisa juga istilah tersebut telah baku misal status quo seringkali tidak diterjemahkan.

Semoga lebih mudah dipahami ya…

Download Buku Bahasa Inggris Gratis?

Anda Guru SMP, SMA, atau SMK? Butuh buku Bahasa Inggris elektronik untuk SMP, SMA, dan SMK gratis?

Mungkin jawabannya iya. Tapi mau cari dimana yang proses downloadnya mudah? Sekarang bisa nih gampang banget. Tinggal klik link ini maka anda akan berada di halaman yang menyediakan buku gratis.

Nanti di halaman tersebut yang harus dilakukan:

1. klik kanan dan pilih “open in new tab”.

2. Ketika halaman telah muncul anda bisa menyimpan “save as copy”.

Selamat mengajar

Muara Aman, Lebong: The Gold and Historical City

Muara Aman, The Gold and Historical City

I grew up in Muara Aman, Lebong Utara, Lebong Regency, so, Muara Aman is also my hometown where I spent my childhood till senior high school. Actually, it is a hard for me to write about this city since I do not have enough resources to write about it. Well, it is OK to say that Muara Aman is city, isn’t it? Since Muara Aman has become the capital city of Lebong Regency, a new regency in Bengkulu Province. Lebong Regency has five sub-regencies; they are Lebong Atas, Lebong Selatan, Lebong Tengah, Lebong Utara, Rimbo Pengadang

Ketenong Waterfall

Muara Aman is the place where I took my basic education, Elementary School (SD Negeri 27 Lebong Utara), Junior High School (SMP Negeri 1 Lebong Utara), and Senior High School (SMA Negeri 1 Lebong Utara). Many people consider that a remote place, like Muara Aman that is far from the capital city of the province, is not so good in its education. But, I think this opinion is not totally correct. Many students who graduated from this area can survive and compete with other students in higher education or university. So, it is one of the capitals that should be considered by the government.

Muara Aman is in Lebong Sub-Regency. Muara Aman means peaceful river mouth. It is because it has a river mouth between Air Aman River and Air Kotok River in Lebong Donok. It is a kelurahan which has traditional market as the down town, but now the market is moved to Dusun Muara Aman at the bus station. In Muara Aman, where I lived at Jalan Veteran No. 71 Pasar Muara Aman, we can find some public service like BRI, BPD Bengkulu, Bank Bukopin, Police station, some shops as the market, jewelry shops, etc. Some of government facilities are scattered around Pasar Muara Aman, Dusun Muara Aman, Paya Embik, Embong Panjang, etc.

Muara Aman was, actually, famous for its gold mining, although some areas are still producing gold. There are some places that can be visited in Muara Aman or Lebong to see its legend in the past. For instance, in Lebong Tambang, for about 3 Km from Pasar Muara Aman, we can see “Lobang Kacamata” (The Glasses Holes). This is an old mining left by the Japanese colonialism. We can also find some traditional mining in this area, but you should be careful there are many holes left by the gold miner without any sign.

Ketenong waterfall in ketenong village

Besides gold mining, we can also see some historical building that was left by English/Japanese/Dutch colonial buildings (I am not so sure who owned for it). There are some sites that can be visited around there, but they are not managed by the government yet. When I was in Elementary School (SD Negeri 27 Pasar Muara Aman) my sport teacher, Mr. Davis, ever took us to some historical building or the ruin of colonial history around Ladang Palembang and Kaler. The building was built by big square-shaped stone but I don’t know what it was? Maybe the historian can do some research about it.

Air Putih dekat Tambang Sawah

Muara Aman or Lebong in general has a very beautiful scenery. We can see Air Putih Valley the river that lies in the way to go Tambang Sawah and ketenong is very beautiful. It has hot spring water where we can boiled egg there. Whenever you visited this place, you should be careful about the hot water more than 100 c. We can swim here too in another site of this river. In lebaran day this place is always crowded with local visitors or from other regency.

There is also something interesting about Muara Aman related to its language, Rejang Language. Since Bengkulu was the only one place in Indonesia that was colonialized by Englishman, there are many English words that still exist in Rejang Language. We can find some English here, for example, kabad /kabed/ the word for cupboard /kΛbəd/; blankit /blaŋkit/ the word for blanket /blæŋkit/; pakit /pakit/ the word for pocket /pΛkit/. This is an interesting thing for the linguist. I have ever done a small research about it.

Lake Picung at Taba Atas

Final word, Lebong has many capital or potency to be explored by the government. However, it needs a hard job because it is still lack of human resource to develop this regency. The society should be open to the new comer and develop this regency. The government should have good strategies in developing this place. Try to compare with other places that have the same character, for example, Sawahlunto Municipality in West Sumatra. Sawahlunto is also a mining city that has become the tourism spot now.

With love for Muara Aman, the peaceful city.

For all of my friends,

Solo, 26 October 2008

Using ICT in Language Teaching

ICT in language teaching is the new trend right now. Most schools and universities used this trend to increase the students’ interest to their institution. Many schools and universities support their institution with computer & internet network, LCD projector and some other devices.

However, this new trend are not supported yet with skillful trainer or teacher to this instruments. On the other hand, students are not new to this new instrument. They are familiar with this instrument such as, internet, fb, email, however, they are not commonly used them for learning.

I really want to help the students and teachers (or some lecturers) who are interested in this new trend. Right now, I am involved in the workshop conducted by English Department FBSS UNP. This workshop invited Ismet Fanany, M.A., Ph.D. (Deakin University) and Elizabeth Smolcic, Ph.D. (The Pennsylvania State University). This workshop conducted for four days attended by English lecturers especially CALL lecturers.

Kampusiana

Kampusku,  Universitas Negeri Padang, lama sudah ku tinggal karena sedang dalam studi. Sepuluh tahun yang lalu, UNP atau mahasiswa di Padang secara umum merupakan  salah satu pelopor reformasi di Indonesia (setahu gue gitu sebelum aksi turun ke jalan di tempat lain di Indonesia). Maka boleh dikatakan aksi turun ke jalan di awali oleh mahasiswa UNP jauh sebelum isu itu menggaung di seantero Nusantara.

Jumlah demontrasi yang pertama cukup banyak walaupun dominan dari mahasiswa FBSS dan FT. Tema dan alasan mereka turun ke jalan juga dipahami para demonstran tersebut.

Namun berbeda dengan aktivis yang turun ke jalan masa sekarang, gerakan turun ke jalan dari UNP (mungkin ditempat lain juga) tidak seperti dulu lagi. Dari segi jumlah hanya sedikit. Dari segi waktu apalagi udah (paling) belakangan juga kayaknya. Apakah karena mahasiswa UNP sudah menjadi aktivis yang baru? Misalnya lebih study oriented atau lebih banyak berkutat dalam kegiatan ilmiah. (Tapi, kayaknya, tidak juga tuh kata dosen-dosennya).

Dulu mahasiswa UNP pemuncak dalam kegiatan ilmiah, PIMNAS, dan juga demonstrasi KKN, reformasi, hingga mereka ikut mendemo rektornya sendiri karena menggunakan hak prerogatifnya (yang terakhir kelewatan gak ya?).

Dulu dalam demonstrasi (aktivis) mahasiswa mencari dulu bahan dan materi yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga dapat dikatakan mereka (sangat) memahami kekisruhan yang yang terjadi (aware and understand) dan berdasarkan fakta.  Termasuk saat penulis sendiri ketika menjadi korlap dalam dialog dan demonstrasi masalah korupsi berjamaah di DPRD SUMBAR. Sebelumnya telah dilakukan kajian terhadap dokumen anggaran belanja anggota dewan yang dapat kami peroleh. (Wuih ternyata saat itu anggarannya banyak banget).

Tapi sekarang? Beberapa aktivis mahasiswa tidak banyak yang paham dengan materi yang mereka tuntut. Apalagi yang cuma ikut-ikutan. Lebih banyak orasi dan berteriak turunkan si A, usut si B. Masalahnya mengerti gak? Beberapa mahasiswa yang ikut demo tersebut kebanyakan tidak paham kasus Century dan hubungan dengan si A dan si B. Lantas ngapain teriak-teriak kalo gak ngerti? Apakah mereka gak aware dengan kondisi yang berkembang atau masih trauma?

Lantas jika kita amati di sisi Nusantara yang lain ada mahasiswa yang merusak fasilitas umum dan usaha masyarakat (misal perusakan restoran waralaba X yang nota bene milik warga sendiri namun mereknya aja asing). Apakah ada fenomena lain yang terjadi pada mahasiswa?

Jika di Padang aksi dorong-dorongan dengan Polisi aja sudah terasa rusuh (apalagi yang pertama ya?). Apakah fenomena ini terjadi di seluruh Indonesia? Wallahu Alam.

Semoga demo mahasiswa atau penyampaian aspirasi ini lebih beradab dan dewasa. Juga lebih berdasarkan fakta. Berikan contoh penyampaian aspirasi yang baik kepada masyarakat, jangan mengeluarkan umpatan dan kata-kata kotor. Sehingga julukan mahasiswa sebagai “intelektual muda yang kritis dan dinamis, serta peduli kondisi lingkungan masyarakat baik tingkat lokal maupun nasional”. Sehingga fungsinya sebagai “Agent of Change” gak pernah luntur.

*Tulisan ini hanya untuk menggugah mahasiswa untuk peduli dan peduli…. dimanapun berada.

Perkuliahan UNP Pasca Gempa

Pasca gempa besar yang melanda Padang dan Pariaman, juga menimbulkan kerusakan parah pada sektor pendidikan. Sedikitnya dibutuhkan Rp. 40 miliar untuk memperbaiki fasilitas pekuliahan, peralatan laboratorium,  dan gedung di Universitas Negeri Padang menurut Rektor UNP Prof. Dr. Z. Mawardi Effendi, M.Pd pada TVone di Padang.
“Hampir seluruh gedung kami rusak, terutama rektorat, laboratorium FMIPA, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi yang lama, dan FBSS,” kata Rektor di Padang, Rabu (7/10).

Ia mengatakan, saat ini, gedung kampus yang rusak sudah mulai dibersihkan.

Untuk perbaikan gedung, kata dia dibutuhkan dana sebesar Rp26 miliar. Sementara untuk alat-alat labor sebesar Rp14 miliar.

UNP akan kembali memulai perkuliahan pada hari Senin tanggal 12 Oktober 2009 .

Foto seputar kampus UNP lihat.