Lagi, Kuliah Yes, Organisasi Yes

Tulisan ini terkait dengan telah hadirnya mahasiswa baru dan menyimak Ganto edisi sebelumnya serta tanggapan Pembantu Rektor III Universitas Negeri Padang, Drs. Alizamar, M.Pd., Kons., mengenai minat mahasiswa berorganisasi. Saya jadi ingin ikut membagi pengalaman dan fikiran mengenai mahasiswa, kuliah, dan organisasi. Memang beberapa mahasiswa terkadang memandang organisasi hanyalah sekelompok mahasiswa yang kumpul-kumpul untuk mengisi waktu. Bahkan tidak sedikit yang malah memandang organisasi sebagai hal negatif yang dapat menyebabkan mahasiswa gagal kuliah.

Pandangan ini muncul karena mereka melihat banyak aktivis kampus (mahasiswa yang aktif berorganisasi) seringkali gagal dalam studi. Yah, ini dapat kita lihat dari ‘mahasiswa abadi’ yang seringkali banyak beredar di seputar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) daripada di ruang kuliah atau pustaka. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa tidak sedikit mahasiswa yang hanya kuliah thok (study oriented), juga gagal dalam perkuliahan. Jadi mana yang lebih baik? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak dapat langsung menjawab yang pertama sedikit lebih baik. Tentu, yang paling baik sukses keduanya, Sukses Studi dan Sukses Organisasi. Namun apakah organisasi sebegitu penting?

Pembaca (pasti) mengetahui bahwa Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan perguruan paling bergengsi di Indonesia. Mungkin tidak sedikit yang memilih ITB sebagai pilihan pertama dalam SNMPTN kemarin. Namun, tahukah anda bahwa ITB menggunakan slogan “Kuliah Yes, Organisasi Yes”. Slogan ini selalu disebutkan saat penerimaan mahasiswa baru kemarin oleh panitia maupun birokrat di kampus ini. Bahwa pendidikan di ITB tidak hanya di bangku kuliah namun juga dalam organisasi. Bahkan hal ini makin mereka kukuhkan ketika ITB telah menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara), mandiri dalam pengelolaannya yang merupakan ‘cita-cita’ dari semua perguruan tinggi negeri di Indonesia. Para birokrat di ITB telah mengikrarkan bentuk pendidikan yang diiringi kegiatan berorganisasi.

Latar belakang pentingnya organisasi dalam kehidupan kampus ini juga disadari sepenuhnya oleh mahasiswa ITB. Seorang mahasiswa tingkat akhir ITB dalam blog-nya menulis bahwa logika penerapan kebijakan ini sebenarnya sederhana, pendidikan harus diberikan secara teori dan pengalaman dalam hal ilmu sains, teknik, seni, budaya, dan sosial. Walaupun institusi ini berlabelkan institusi teknik tapi mahasiswanya dibekali dengan semua keahlian yang bersifat sains dan sosial (http://fitrasani.wordpress.com/). Tujuannya adalah keseimbangan dan paralel antara teori dan praktek di lapangan. Perlu kita ingat bahwa lapangan tidak selalu berarti dunia kerja, tetapi juga masyarakat tempat mahasiswa akan terjun nantinya.

Boleh dibilang tulisan ini memang terinspirasi dari reformasi paradigma pendidikan yang terjadi di ITB menurut Fitrasani tadi. Paradigma baru yang dikembangkan yaitu usaha mendidik tidak hanya diberikan oleh dosen di bangku kuliah tetapi juga dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa di dalam organisasi. Bahkan paradigma tersebut telah menjadi slogan yang tertera di situs kampus (tapi penulis sendiri gak nemu sih yang ada In Harmonia Progressio “Kamajuan dina kaharmonisan” ini terjemahan bahasa Sundanya), di kertas ujian, dan di papan pengumuman kampus yang memberitakan bahwa organisasi merupakan salah satu proses pendidikan resmi di kampus sana, katanya.

Lantas, bagaimana pandangan mahasiswa dan dosen tentang organisasi di UNP? Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penulis lebih ingin menekankan, apa sih sebenarnya organisasi dan manfaatnya? Sangat pentingkah aktif berorganisasi sehingga ITB pun sangat menekankan hal ini?

Pertama, organisasi dari bahasa Yunani organon – alat dalam situs wikipedia didefinisikan sebagai “a social arrangement which pursues collective goals, which controls its own performance, and which has a boundary separating it from its environment” (suatu struktur sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama, yang mengatur dirinya sendiri dan memiliki batasan terhadap lingkungan). Secara lebih sederhana organisasi merupakan sekumpulan orang yang berlatar belakang pendidikan ataupun umum yang memiliki  dasar yang jelas untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang merupakan organisasi dari mahasiswa yang sama-sama ingin mengembangkan bakat dan keterampilan tertentu. Contoh lain yang lebih sederhana adalah organisasi mahasiswa yang berasal dari daerah tertentu yang banyak di kampus (misal IPPR, FMISU, Imapas, Himprel). Organisasi-organisasi ini  dilatarbelakangi keinginan merasakan kebersamaan dan mengobati kerinduan saat berada di perantauan, selain keinginan untuk membangun daerah kelahirannya.

Trus, kalau hanya ingin mengembangkan bakat, keterampilan, bukannya masih bisa diperoleh dari kursus atau kuliah? Atau, kalau rindu kampung, kan bisa pulang. Ya, tapi dapatkah kita melatih: jiwa kepemimpinan (leadership), berkomunikasi secara efektif dan efisien, bernegosiasi dan berargumentasi dengan baik, berbagi (sharing), dan bagaimana berurusan dengan birokrat atau masyarakat umum, serta mengembang jiwa kewirausahaan (interpreneurship), sementara tidak semua jurusan menawarkan mata kuliah tersebut?

Menyangkut jiwa kepemimpinan, dalam Islam, kepemimpinan itu biasa dikenal dengan istilah imarah, riasah, atau qiyadah. Islam telah melekatkan persoalan kepemimpinan ini atas diri umatnya sedemikian rupa. Sehingga pada setiap umat itu nantinya akan ditanyai mengenai kepemimpinannyaa. Selanjutnya Sabda nabi Muhammad SAW “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir”. Dalam kehidupan sehari-hari implementasinya adalah sholat berjamaah yang lebih diutamakan dari pada sholat sendiri.

Disamping itu, masih memaknai kelompok ini, satu hal lagi yang harus kita catat. Jika sebuah kelompok menyepakati sesuatu yang sebelumnya terjadi perbedaaan pendapat diantara mereka, kesepakatan ini lebih dipertimbangkan lebih kuat/tinggi dibandingkan pendapat seorang saja. Seperti kita ketahui ijma’ dari ulama menempati urutan ke tiga sebagai dasar hukum dalam Islam setelah Al Quran dan Hadits. Sementara ijma’ ulama adalah sebuah kesepakatan umum yang telah disetujui semua anggotanya. Nah, dalam organisasi pun lebih kurang juga seperti itu.

Dalam organisasi kita tidak mungkin sendirian. Seorang ketua organisasi pun tidak memutuskan sesuatu sendiri namun melalui berbagai jenis rapat/musyawarah. Organsasi terdiri dari kumpulan orang yang memiliki beragam latar belakang, baik pengetahuan, pengalaman, watak, dan sebagainya namun mereka memiliki satu tujuan bersama. Mau tidak mau kita harus melewati pertukaran pendapat, pengalaman, bahkan adu argumentasi, namun juga harus menghargai pendapat yang berbeda, demi mencapai keputusan terbaik. Hal ini sesuai falsafah minang yang bermakna fikiran dari dua orang lebih baik dari satu. Karena pendapat satu orang belum tentu benar. Lebih lanjut, dalam organisasi kita akan memahami berbagai tingkatan musyawarah/rapat yang merupakan miniatur pemerintahan.

Dari literatur diperoleh bahwa antara akademik dan organisasi itu memiliki hubungan erat. Semacam simbiosis mutualisme yaitu hubungan saling menguntungkan. Kenapa begitu? Pendidikan merupakan asas dan pondasi untuk dapat bisa berperan aktif dalam sebuah organisasi. Tanpa bekal pengetahuan seseorang tidak akan menjadi organisatoris sejati yang dapat meng-organize (mengatur) diri pribadi (kepentingan pribadi), kelompok, bahkan keluarga. Kemampuan berorganisasi dengan baik merupakan indikator baiknya seseorang dalam pendidikannya (baca pengetahuan dan kemampuan manajerialnya). Berorganisasi tanpa memiliki dasar pendidikan yang cukup akan menciptakan aktivis kampus yang hanya berhondoh pondoh tanpa mengetahui makna dan manfaat yang harusnya mereka petik. Paling-paling mereka hanya berlama-lama di kampus dengan alasan sibuk organisasi.

Terkait alasan tidak pentingnya berorganisasi karena topik yang dikaji atau kegiatan yang dilaksanakan organisasi tersebut terlalu jauh/diluar, atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan disiplin ilmu mereka, menurut saya ini justru keliru. Menurut hemat saya justru hal seperti itulah yang malah bisa memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Tidak jarang mahasiswa yang diterima bekerja setelah kuliah justru karena pengalaman organisasinya. Untuk lingkup UNP, sebut saja Yurnaldi (kimia), Mairi Nandarson (teknik), Rino Z (B. Indonesia), dan Syafriyal (B. Inggris) yang aktif di penerbitan kampus akhirnya menjadi wartawan nasional, atau Revi Nilamsari (B. Inggris) justru sukses sebagai penyiar dari pengalaman sebagai aktivis di radio kampus, dan tidak hanya itu, juga banyak intrepreneur muda yang lahir setelah aktif di KOPMA, serta masih banyak yang lain tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Jadi kalau kita sudah mengetahui peran penting pendidikan dalam organisasi, apakah kegiatan berorganisasi juga bermanfaat terhadap perkembangan akademik? Sepeti bunyi iklan yang dulu akrab di telinga kita “ah teori’, maksudnya mahasiswa yang aktif kuliah tanpa berorganisasi kurang lebih menjadi mahasiswa yang hanya mahir di teori tapi nol pada prakteknya. Pada dasarnya seperti disebutkan di atas organisasi merupakan realisasi atau penerapan (application) dari yang dipelajari di bangku kuliah kemudian diperagakan secara langsung di lapangan. Bukankah pemahaman terhadap sebuah teori akan lebih baik setelah dipraktekkan? Jadi kita akan lebih mantap dalam memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah kita peroleh. Kita akan mendapatkan banyak pengalaman bagaimana cara bersosialisasi dan bermasyarakat yang baik. Kita juga akan memperoleh pengalaman berurusan dengan birokrasi dan berkomunikasi secara efektif dengan petinggi/pejabat/atasan atau kalangan bawah. Serta kita dapat mengenali watak dan karakter. Tentu saja pelajaran itu hanya dapat kita peroleh jika kita berorganisasi. Seperti itulah keuntungan diantara keduanya yaitu saling mengisi dan melengkapi.

Dalam pandangan islam pun berorganisasi diperlukan dalam memimpin meraih kemenangan, bukan mengantarkan kita pada kekalahan (gagal dalam kuliah). Karena organisasi mengajarkan kita hidup berencana (planning) dan berstrategi untuk mencapai tujuan bersama, jadi tidak bergerak sendiri-sendiri. Untuk itu kita harus belajar bagaimana cara berkiprah dalam suatu organisasi. Karena mahasiswa yang berorganisasi memiliki nilai lebih dibandingkan yang tidak. Jika kita bandingkan aktivis kampus dengan non aktivis yang hanya kuliah saja (study-oriented) terlihat mahasiswa yang study-oriented sangat jelas memiliki indek prestasi (IP) yang baik. Namun ia lemah dari segi pengalaman. Sebab mahasiswa tersebut jika berhadapan dengan persoalan yang pelik, mereka sangat teoritis dalam menyelesaikan persoalan karena kurangnya pengalaman lapangan yang terkadang lebih praktis, bahkan kurang mampu menyelesaikan konflik yang sudah merupakan menu harian sebagai mahasiswa atau manusia yang hidup.

Sementara aktivis kampus cenderung lebih bersikap kritis, pantang menyerah, kreatif dan argumentatif dibanding mahasiswa non aktivis yang biasanya bersikap pasif kecuali dalam perkuliahan. Perbedaan lain, aktivis kampus dalam menangani persoalan jauh lebih cepat dalam mengkaji hubungan sebab-akibat dan dampak dibanding mahasiswa non aktivis. Dari pengalaman mereka terbiasa untuk merancang segala sesuatu dengan baik, walaupun terkadang ada yang luput dari perencanaan. Tapi ini akan menjadi pengalaman dan guru yang sangat berarti nantinya. Dari kesehariannya keuntungan para aktivis ini mereka banyak banyak membangun relasi, baik untuk kepentingan organisasi maupun untuk kepentingan pribadi, termasuk relasi yang akan sangat ‘bermanfaat’ setamat kuliah, dalam memperoleh pekerjaan. Sebut saja aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) bukan rahasia kalau mereka sangat erat jaringannya. Bagi para aktivis yang masih berstatus mahasiswa maupun tidak, mereka tetap saling bantu. Lain dengan mahasiswa akademisi yang hanya mengetahui seluk-beluk ilmunya, kampus, pustaka dan kost tanpa memiliki relasi baik secara individual maupun organisatoris, yah kecuali persahabatan tentu.

Namun pilihan untuk menjadi aktivis kampus sejati harus mampu memadukan kegiatan organisasi dengan kegiatan kuliah. Aktivis sejati adalah seorang organisatoris sejati yang mempunyai manajemen yang baik. Artinya antara kegiatan organisasi dan perkuliahan di kampus dipandang sebagai dua sisi yang harmoni. Bahwa keduanya dipandang secara berimbang sebagai “sama-sama penting”. Mereka mampu menjaga harmoni antara kuliah dan organisasi, yah kurang lebih seperti motto ITB tadi lah. Namun mahasiwa yang seperti ini amat jarang ditemui. Mahasiwa ini biasanya memakai semboyan, “sukses organisasi, sukses studi”.

Aktivis kampus yang sering kita temukan justru organisatoris yang malah gagal dalam manamen diri sendiri sehingga timpang dalam menjaga harmoni antara kuliah dan organisasi. Seharusnya selama berorganisasi kita belajar mengembangkan pola manejemen yang baik dalam segala hal termasuk manajemen pribadi, waktu, prioritas. Sering, kita temukan aktivis tidak dapat mengembangkan kemampuan manajemen yang baik dan tidak bisa membagi antara kuliah dan organisasi. Sehingga mereka tidak begitu sukses dalam kuliah atau organisasi. Masih dalam tipe ini, aktivis gadungan (aktivis yang hanya berhondoh pondoh) tanpa memiliki tujuan yang jelas dalam ikut atau memilih organisasi. Mereka berorganisasi hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya sekedar syarat untuk mengajukan beasiswa. Mereka biasanya ramai pada saat diawal dan kemudian hilang (terseleksi secara alami).

Namun, yang berbahaya justru tipe mahasiswa yang menjadi aktivis murni. Dalam kesehariannya mungkin slogan yang mereka gunakan “jangan sampai kuliah menggangu organisasi”. Tipe mahasiswa ini sangat radikal, karena sepenuhnya terjun dalam dunia organisasi bahkan pergerakan mahasiswa hingga menomorduakan kuliah. Sayangnya, aktivis seperti justru lebih banyak dikenali mahasiswa dan menjadi momok bagi orang tua yang belum memahami manfaat berorganisasi. Walaupun jumlah mereka tidak banyak namun mereka justru dijadikan stereotype atau tipikal seorang aktivis kampus. Sehingga tak jarang sih, dosen juga memandang miring para aktivis kampus.

Bagi mahasiswa baru, kehidupan organisasi di perguruan tinggi sangat berbeda dengan di sekolah menengah. Anda akan sangat rugi jika hanya menjadi seorang mahasiswa yang study-oriented, atau tidak lebih baik kalau menjadi aktivis gadungan atau malah kebablasan jika menjadi aktivis murni. Jadilah aktivis sejati yang memang mampu menjaga harmoni antara organisasi dan kuliah. Namun apapun yang menjadi keputusan anda adalah keputusan yang terbaik untuk anda. Akan tetapi  ada satu hal yang perlu diingat. Kita yang saat ini bersetatus sebagai mahasiswa (termasuk saya saat ini) haruslah pandai-pandai menyeimbangkan antara berorganisasi dan study. Jangan sampai kita berat sebelah.

(dari berbagai sumber)

About these ads

7 thoughts on “Lagi, Kuliah Yes, Organisasi Yes”

  1. Sedikit menambahkan pertimbangan,.
    Rumput tetangga kadang memang terlihat lebih bagus, namun jangan pernah lupa untuk selalu menjadi diri sendiri,. :D

    Salam kenal ya,.

  2. Salam kenal balik,
    Benar juga, tapi sebagai manusia kita dianjurkan meneladani dan meninggalkan yang kurang baik. Bung Dwi benar, karena prinsipnya tiada gading yang tak retak. Thank you.

  3. Assalamu”alaikum.
    Great Job Pak Vid, you have many information to share in your blog. Anyhow, until now just limited number of Eng Dept Lecturers who have a blog. We hope after following workshop of making web and blog executed by PHK A1, they will join us in this cyber world.
    A question sir; when will you come to Jogja Never Ending Asia to celebrate Idul Adha? We are waiting here. Lets enjoy dendeng, soto and lontong Padang as we did in last Idul Fitri. K.

  4. right sir, good news that Ni binda has joined it too. just click at “other english dept staffs”.
    Insya Allah before lebaran, I’ll try to contact pak zul.
    Salam dari Solo the truly java

  5. terima kasih tulisannya, saya kalau boleh meminta pendapat, bgm pendapat callhavid berkaitan dengan pendapat mhs aktivis dan jug mhs non aktivis berkaitan dengan peran pengasuhan orangtua dan peran pembimbing kemahasiswaan dalam mengembangkan performansi potensi mahasiswa aktivis/non aktivis, matur nuwun. Wss. – suroso

    1. Makasih atas kunjungannya Mas Suroso,
      Wah ini pertanyaannya bertingkat… pendapat saya tentang pendapat mhs aktivis n non aktivis. :-)
      Menurut saya, pendapat mahasiswa yang “non aktivis” orang tua harus selalu memberi petunjuk dan arah apa saja yang mereka boleh lakukan. Mereka merasa takut untuk mencoba berorganisasi atau aktif karena takut hal itu akan membahayakan tujuan awal mereka untuk kuliah seperti pesan otu mereka. Mereka tidak perlu mencoba-coba hal yang baru. Pembimbing mahasiswa sepertinya tidak mereka perlukan kecuali dalam perkuliahan saja. Beberapa dari mahasiswa tersebut jarang berkegiatan di kampus jadi mereka memang tidak memiliki pendapat mengenai kegiatan pembimbing. Karena kadang-kadang bagi mereka tugas-tugas yang diberi pembimbing itu jadi membebani mereka.
      Sementara, mahasiswa yang aktivis peran pengasuhan orang tua sangat menentukan bagaimana mereka bisa berkreativitas dan menampilkan diri dalam keseharian dan menjalankan tanggung jawab (antara kuliah dan organisasi). Mereka bisa jadi aktivis karena ortu percaya mereka mampu, hal ini lahir dan pengasuhan ortu sejak mereka kecil. Pengasuhan dari pembimbing kemahasiswaan lah yang mengarahkan mereka agar tidak terlena dalam kegiatan dan lupa pada tujuan awal dan bagaimana pola manajemen yang tepat sebagai aktivis. Walaupun beberap mahasiswa tsb juga merasa pembimbing cenderung menjadi penghalang. Namun setelah itu mereka menyadari bahwa pada dunia nyata (di luar kampus) kita akan selalu berhadapan dengan birokrasi (persis seperti dalam kampus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s