Sedih & Malu: Tawuran antar Mahasiswa UNP

 

Wajah dunia pendidikan Indonesia kembali tercoret dengan tawuran anatar mahasiswa sebuah Lembaga Penghasil Tenaga Kependidikan (LPTK). Sebagai alumni dan staf dosen di Universitas Negeri Padang (UNP), saya sangat sedih dan malu melihat tawuran antara mahasiswa FT dan FIK UNP yang terjadi Sabtu (20/9) dan Senin (22/9). Ironis, kampus yang pernah mengedepankan kampus religius (saat Bapak Prof. Dr. A. Muri Yusuf menjadi Rektor) justru meningkatkan tawuran tepat pada 10 hari terakhir Ramadhan. Saat umat muslim sedang meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Jika ditilik dari awal kejadian menurut tvOne (Sabtu, 20/9) dan beberapa situs berita lain, kejadian ini berawal dari kejadian kecil, senggolan atau mentertawakan antar mahasiswa di dekat GOR UNP. Ironisnya, mereka malah memperbesar hal kecil tersebut. Bahkan mengulang tawuran pada hari Senin (22/9) setelah hari sabtu sebelumnya. Kejadian ini bertepatan pada bulan yang harusnya mereka lebih menunjukkan sikap sabar sebagai orang yang berpuasa.

Jika melihat dan menggunakan fikiran, apa yang mereka lakukan sangat merusak nama kampus di mata nasional. Dulu UNP (IKIP Padang) identik dengan pameo ‘Dima Kampung?” Pameo ini mengisyaratkan bahwa mahasiswa UNP rata-rata berasal dari kampung. Walaupun pada kenyataannya tidak sedikit mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Medan dll. Namun, dengan ‘prestasi mahasiswa’ yang seperti ini, mereka telah mempermalukan diri sendiri – nama UNP – dan nama mahasiswa umumnya. Mahasiswa yang terlibat tawuran ini telah menunjukkan kualitas mereka sebagai mahasiswa yang ternyata masih ndeso , meminjam istilah Tukul.

Mahasiswa sebagai intelektual muda seharusnya mengedepankan fikiran dan intelektualitas. Bukan mengedepankan emosi dan otot sebagai sifat purba manusia. Tidakkah adik-adik mahasiswa yang terlibat tawuran memikirkan hal tersebut?

Jika kita mengenang sejarah angkatan 98, mereka berjuang meruntuhkan Orde Baru demi rakyat Indonesia. Mahasiswa UNP patut berbangga, bahwa di Sumatera UNP adalah salah satu kampus yang mengawali demo di awal Februari 1998. Itu pun tanpa pengrusakan dan anarkisme. Namun sekarang? Mereka menunjukkan sikap arogansi dan emosi yang tidak beralasan dan menunjukkan sikap destruktif.

Apakah anda menegakkan nama atau ‘maruah’ fakultas jika menyerang fakultas lain yang nota bene masih milik anda juga? Toh, jika anda merusaknya, bukankah untuk membangunnya kembali berasal dari uang anda, orang tua anda, dan masyarakat umumnya. Jadi siapa yang anda bela? Teman anda tadi? Coba lihat apa yang telah dia lakukan? Berapa yang mesti anda, orang tua, masyarakat dan negara bayar hanya sebuah senggolan biasa atau pemira BEM? Kemana para organisatoris UNP?

Di Jakarta setiap hari antar kendaraan roda 2 bersenggolan, maklum kota besar mereka bukan ‘wong ndeso’. Kemudian di UNS Surakarta tempat saya studi sekarang, (juga di UI, UGM, dan kampus besar lainnya) antar mahasiswa yang membawa kendaraan juga sering terjadi kecelakaan kecil tersebut, tapi itu hal biasa, maklum kampus besar mahasiswa pun bukan ‘wong ndeso’. Nah UNP, kapan lagi anda tunjukkan sikap dan jiwa besar saudara, Bung? Jika anda juga ingin dianggap sebagai universitas besar dan ternama di Indonesia. Itu saja anda belum mampu.

Cobalah renungkan kembali. Tindakan merusak kampus, saling serang, (tawuran) adalah sikap-sikap purba yang tidak seharusnya ditunjukkan mahasiswa. Tunjukkanlah, UNP adalah kampus yang besar yang bukan diisi oleh ‘wong ndeso’. Ukirlah segudang prestasi lokal maupun nasional. Contohlah universitas besar lainnya di Indonesia UI, ITB, ITS, mereka sudah berlomba dalam merancang robot, membuat temuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Janganlah berlomba mempermalukan diri sendiri.

                                                      (eks Korlap demo 98/00, mahasiswa UNS Surakarta)

 

About these ads

5 thoughts on “Sedih & Malu: Tawuran antar Mahasiswa UNP”

  1. Bener bgt tu pak, sebagai salah satu mahasiswa UNP aq ngerasa malu mampus…
    hampir semua station tv nayangin acara tawuran anak FT ma FIK (yang dulunya jg pernah kejadian)…

    Mo ke kampus pun klo lwt deket2 dua fakultas itu jd ngerasa gk aman, takut jadi korban salah sasaran….

    Emang pak, yg ikut tawuran gk modern, ngandalin otot doank bukan otak lgi.

    Miris nya lagi tawuran itu terjadi cuma gara2 hal sepele bgt, and kejadian di bulan ramadhan dmn setiap insan dituntut kesabarannya….

    Selasa ne ke kampus, malah disuruh plg ma bapak and bu dosen (manga juo di siko lai, ndak takuik ditangkp polisi, pai lah plg lai) kt slh seorang dosen sasing hehehehe….

    Klo bapak di padang, bisa liat sendiri kampus FT kyk apa skrg, banyak yg hancur…..kasian…..kasian….
    jadinya gk kul de ntu mereka (that’s what they want maybe)….

    Trus yg jd korban sapa klo bukab qt2 juga????

    Sudahlah temen2, DAMAI akan lebih indah…..

  2. Asslm, pak.
    Stuj banget ma tulisan bapak di atas. Masa’ di bulan Ramadhan mana harusnya ningkatin ibadah ni malah maen tonjok2an, di kampus lage.
    Malu banget deh..sbg mhs UNP..
    Itulah bedanya mhs dulu ma sekarang.
    Mhs dulu peras keringat unjuk rasa memperjuangkan nasib rakyat..
    Mhs skrg peras keringat unjuk kebolehan lemparan batu siapa paling tepat nancep di bahu lawan, yg notabene sesama mhs satu kampus yg harusnya kerjasama mengharumkan nama kampus..
    Weleh..weleh..
    Anak muda jaman sekarang.. ;-b

  3. assalamualaikum.w.w.saya sangat setuju dengan kata pak Havid (pak dosen awak ko mah) saya juga merasa malu dengan akibat ulah rekan-rekan mahasiswa. seharusnya sikap tenggang rasa, hormat-menghormati dan bertanggung jawab lebih ditanamkan pada diri mahasiswa sebagai calon penerus bangsa. mudah-mudahan rekan-rekan mahasiswa ke depan lebih arif dan bijaksana dalam bertindak. AYO REKAN REKAN MAHASISWA LEBIH BAIK KITA MENANG KOMPETISI YANG BERGENGSI DARIPADA MENANG TAWURAN

  4. Benar Ady, Putri and Yelfie, kapan lagi kita akan berkarya dan mengharumkan nama kampus kalau tidak sekarang. Mari, mahasiswa bukan ‘wong ndeso’ kita adalah agen perubahan (agen of change) ke arah kebaikan bukan kemunduran. Mahasiswa di mana pun berada hentikan tawuran. Mari Berlomba untuk memenangkan Kompetisi yang bergengsi sperti kata Ady tadi.
    Sukses mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s