Nasionalisme & Gender dalam Penerjemahan: Ideologi dalam Penerjemahan

Nasionalisme & Gender dalam Penerjemahan:

Ideologi dalam Penerjemahan

Oleh:

Havid Ardi[1]

FBSS Universitas Negeri Padang

Abstract

The ideology in the translation subject differs from the ideology in social subject. The process of translating is influenced by the ideology of the translator. There are two ideologies in the translation practice, they are: foreignization and domestication. In fact, there is no a pure foreignization or domestication translation. There is only a tendency to use a foreignization or domestication ideology in translation. Instead of that, the society’s vision also determines what the translation should be.

Keywords: translation ideology, foreignization, domestication,


[1] Mahasiswa Pascasarjana Linguistik Penerjemahan UNS

  1. A. Pendahuluan

Penerjemahan secara umum dipahami sebagai suatu usaha untuk mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Seperti definisi yang diberikan Bell (1991:12-13), Kridalaksana dalam Nababan (2003:19-20) dan Nida & Taber (1982:12) menyatakan bahwa penerjemahan adalah pemindahan atau reproduksi suatu pesan (amanat) dari Bsu ke dalam Bsa dengan padanan terdekatnya. Dalam definisi ini juga dicantumkan bahwa ukuran kesepadanan tersebut adalah kesepadanan makna atau kandungan isi, kemudian kesepadanan gaya bahasanya. Dari definisi diperoleh gambaran bahwa penerjemahan harus mengutamakan kesepadan isi dan gaya bahasa.

Namun, terkadang makna yang terdapat dalam teks sumber (Tsu) tidak selalu dipertahankan dalam versi teks bahasa sasaran (Tsa) (Hamerlain, 2005:55). Penyebabnya jika kita telusuri dapat berasal dari pandangan dan keyakinan penerjemah seperti apa terjemahan itu seharusnya. Masing-masing penerjemah tentunya memiliki ukuran dan pandangan berbeda mengenai terjemahan yang baik yang bisa saja berbeda satu sama lain walaupun mereka sama-sama ingin menghasilkan terjemahan yang memberikan informasi dan

diterima dengan baik oleh masyarakat. Sejak abad pertengahan dan renaisans, perdebatan mengenai terjemahan yang bebas dan literal menjadi topik hangat (Kelly dalam Fawcett, 2000:108), hal ini terkait terjemahan yang baik untuk pembaca sasaran. Pandangan “seperti apa terjemahan yang baik tersebut” oleh seseorang atau penerjemah merupakan cerminan dari ideologinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bassnett & Lefevere (dalam Venuti, 1995: vii) bahwa:

Translation is, of course, a rewriting of an original text. All rewritings, whatever their intention, reflect a certain ideology and a poetics and as such manipulate literature to function in a given society in a given way. (Bassnett & Lafevere dalam Venuti, 1995:vii)

Pandangan Bassnett dan Lefevere menegaskan bahwa dalam proses penerjemahan, apapun tujuannya, tidak luput dan merupakan cerminan dari ideologi yang dimiliki dan berfungsi dalam masyarakat (Lafevere dalam Fawcett, 2000:106). Hal ini dapat terjadi dalam berbagai jenis penerjemahan yang memiliki muatan budaya, misalnya: teks sastra, berita surat kabar, film dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Hoed, 2004).

Ideologi secara umum sering diartikan sebagai pandangan atau kebenaran yang dianut oleh seseorang atau masyarakat. Barthez (dalam Hoed, 2004:1) mengatakan bahwa ideologi adalah mitos yang sudah mantap dalam suatu komunitas. Mitos di sini merujuk pada pemaknaan atas suatu gejala budaya. Ideologi yang dianut seseorang akan mengarahkan tindakannya sesuai dengan prinsip kebenaran yang dianutnya tersebut. Demikian pula dalam penerjemahan, ideologi yang dipegang penerjemah mengenai terjemahan yang baik akan mengarahkan setiap tindakan yang dilakukannya dalam proses penerjemahan. Lebih lanjut, dari pendapat Bassnett & Lafevere di atas, tersirat bahwa ideologi tersebut tidak hanya nilai atau keyakinan yang dimiliki penerjemah, bisa saja kebenaran tersebut merupakan ideologi atau kebenaran kelompok atau ideologi masyarakat yang tercermin dalam karya terjemahan tersebut agar terjemahannya dapat berterima dalam masyarakat.

Hal ini dapat dipahami, karena ideologi dalam penerjemahan adalah prinsip atau keyakinan tentang “benar-salah” atau “baik-buruk” dalam penerjemahan (Hoed, 2004:1, 2006: 83). Prinsip benar-salah ini tentu telah terbentuk dalam masyarakat atau diyakini juga oleh penerjemah. Namun, prinsip benar dan salah atau baik dan buruk ini semuanya bersifat relatif. Baik pembaca maupun penerjemah memiliki ukuran masing-masing terhadap penerjemahan yang baik dan yang buruk. Seringkali pembaca mengeluhkan terjemahan yang jelek karena susah dipahami, sementara pembaca yang lain puas karena dapat merasakan gaya penulis asli. Di sisi lain kita juga sering menemukan kasus penerjemah menghilangkan kata-kata tertentu (misalnya unsur seksualitas) atau modulasi makna (seperti modulasi “annexation” menjadi integrasi dalam teks sejarah Timor Timur dari teks Australia lihat Machali, 2000). Tentu penerjemah memiliki dan mengikuti pandangan tertentu yang eksis dalam masyarakatnya. Namun, apakah itu terkait budaya, kebenaran yang diyakini masyarakat, kebijakan pemerintah, atau ideologi penerjemah? Berdasarkan hal tersebut, muncul pertanyaan lain, bagaimanakah pengaruh ideologi dalam penerjamahan?, dan terjemahan seperti apakah yang “baik dan benar” tersebut terkait ideologi penerjemahan? Selain itu, bagaimanakah melakukan penelitian ideologi dalam penerjemahan?

(read more in Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa. Published by Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBSS Universitas Negeri Padang, 2009.

About these ads

7 thoughts on “Nasionalisme & Gender dalam Penerjemahan: Ideologi dalam Penerjemahan”

    1. Welcome Lidia. Lingua Didaktika tidak hanya untuk kalangan universitas saja. Guru-guru juga bisa menulis dan berlangganan Lingua Didaktika. Silahkan pesan bisa via pak Havid atau langsung ke Jurusan Bahasa Inggris UNP

  1. 1. apakah ada syarat-syarat tertentu agar seseorang dapat menjadi penerjemah, Pak? misalnya seorang yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan bahasa inggris, namun menguasai bahasa tersebut dan menerjemahkan suatu tulisan ke dalam bahasa ibunya.

  2. Assalamu’alaikum Pak..
    Saya mahasiswi semester7 sastra inggris dengn konsentrasi Translation di univ.Jakarta, mau tanya, apa sih yang dimaksud dengan “direct translation” dan kira2 bagus nggak kalau dibuat research untuk skripsi? Tolong dibalaz yaa Pak,, terima kasih banyak.. :)

  3. Assalamu’alaikum Pak..
    Saya mahasiswi semester7 pendidikan bahasa inggris di iain-su, mau tanya, apa sih judul yang cocok buat artikel dengan tema penerjemah dan lingustic?? Tolong dibalaz yaa Pak,, terima kasih banyak.. :)

  4. selamat siang pak saya nahasiswa semester 6 di salah satu universitas di bandung saya sedang menyusun rancangan proposal skripsi. ada yang mau saya tanya pak.
    1) apakah masalah gender mungkin terjadi di dalam proses penerjemahan?
    2) di teks yang bagaimana saya bisa mendapatkan gejala ini pak?

    terimakasih

    1. Bisa Aya,
      Masalah gender juga dapat dilihat dalam penerjemahan.. bisa di teks manapun sebenarnya.. cuma tidak semua penerjemah menyadarinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s