04. Persamaan dan Perbedaan Penerjemahan Tulis dan Lisan (lanjutan)

1.        Aspek fungsi

Beberapa pendapat menyatakan bahwa penerjemahan tulis dan lisan sebenarnya menjalankan fungsi pelayanan yang sama, yaitu mengungkapkan kembali pesan dalam suatu bahasa yang telah diungkapkan dalam bahasa lain (Gile, 1995:2; Nababan, 2003:18; dan Suryawinata & Hariyanto, 2003:25). Pengungkapan kembali suatu pesan atau pengalihan pesan ini baik dalam penerjemahan tulis maupun lisan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk terciptanya komunikasi (Hidayat & Sutopo, 2006:155). Pandangan ini sendiri tidak terlepas dari adanya anggapan bahwa terjemahan (produk penerjemahan) adalah alat komunikasi “a means of communication’ (Newmark, 1981:62; Gile, 1995:21; Nababan, 2003:29).

Sebagai alat komunikasi, menerjemahkan berarti memungkinkan terjadinya komunikasi. Secara umum kita memahami komunikasi sebagai proses pengiriman pesan/informasi dari pengirim (sender) kepada penerima (receiver). Menerjemahkan secara tulis ataupun lisan memiliki arti yang kurang lebih serupa, yaitu menyampaikan makna atau pesan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bell (1991:15) bahwa penerjemah (dan pengalih bahasa) merupakan ‘agen mediator dwibahasa’ antar partisipan-partisipan monolingual dalam dua kelompok pemakai bahasa yang berbeda, pertama penerjemah mengurai isi sandi yang disampaikan dalam satu bahasa dan kemudian menyandikan kembali ke bahasa lainnya. Jika kita bandingkan dengan komunikasi biasa, secara umum dapat kita gambarkan sebagai berikut:

 

 

                                                         code

 

SENDER             Channel     SIG[message]NAL    Channel                 RECEIVER

 

                                                 Content

 

 

Gbr 1.Komunikasi monolingual (Bell, 1991: 18)

 

 

Sementara pada komunikasi yang melibatkan penerjemah dapat digambarkan sebagai berikut:

 

                                                         Code 1

 

SENDER              Channel                      SIG[message]NAL 1       Channel                PENERJEMAH

 

                                                 Content 1

 

                                                             Code 2

RECEIVER         Channel        SIG[message]NAL 1                  Channel                                 

 

                                                     Content 2

 

Gbr 2. Penerjemahan (Bell, 1991: 19)

 

Kita melihat bahwa pesan yang sama disampaikan kepada RECEIVER (penerima) namun dalam kode yang berbeda. Kode disini merujuk ke Bsa. Hal ini terjadi pada penerjemahan tulis dan lisan.

Kemudian, Gile (1995:23) secara umum menggambarkan kasus komunikasi yang terjadi antara pelaku komunikasi yang melibatkan penerjemah adalah: (1) dari penulis ke pembaca bahasa sumber, dan (2) dari penerjemah ke pembaca bahasa sasaran. Sementara dalam penerjemahan lisan komunikasi yang terjadi adalah dari penutur Bsu (sender) berbicara ke pendengar Bsa dengan penerjemah sebagai perantaranya, atau penutur bicara langsung kepada pendengar Bsu dan (penerjemah) pendengar Bsa pada saat bersamaan.

Dari penjelasan ini dapat diperoleh simpulan persamaan fungsi penerjemahanan dalam komunikasi yang memungkinkan penyampaian pesan tertulis dari penulis, atau lisan dari pembicara yang berbicara dalam bahasa yang berbeda (Bsu) dapat dipahami oleh pembaca atau pendengar karena disampaikan oleh penerjemah dalam Bsa. Sehingga komunikasi dapat berjalan baik dengan adanya penerjemah. Syarat komunikasi yang baik tentunya pesan yang disampaikan dapat dipahami dan memberikan reaksi sesuai dengan keinginan pemberi pesan, begitu juga dalam penerjemahan.

 

2.        Aspek Media

Dalam teori komunikasi kita mengenal adanya media agar terjalinnya komunikasi. Berarti dalam komunikasi yang melibatkan penerjemahan juga terdapat media. Dari segi produk atau hasil, penerjemahan tulis menghasilkan produk teks tulis/buku sebagai media yang dapat dibaca, sementara penerjemahan lisan menghasilkan produk wacana lisan sebagai media yang dapat didengarkan. Dalam aplikasinya produk terjemahan inilah yang menjadi media penyampaian pesan (message) dari pengirim (penulis/penutur) ke penerima (pembaca/pendengar) dalam bahasa yang mereka pahami (Bsa).

Maka dapat ditarik simpulan, dalam komunikasi yang melibatkan penerjemahan, produk terjemahan merupakan media komunikasi. Namun dalam hal ini terdapat perbedaan jenis media yang digunakan. Pada penerjemahan tulis medianya teks tulis, sementara penerjemahan lisan media wacana lisan (Suryawinata dan Hariyanto, 2003:25).

 

3.        Aspek Cara dan Situasi Kerja

Aspek berikutnya yang dapat kita bandingkan adalah cara kerja dalam pelaksanaan penerjemahan tulis dan lisan. Pertama dari segi cara, jam, beban, dan tempat kerja. Penerjemahan tulis dilakukan dalam waktu yang tidak begitu terikat, ia bisa bekerja sehari, seminggu, atau sebulan dalam menyelesaikan tugasnya dengan beban bervariasi. Pada tingkat penerjemah mahir mampu menterjemahkan 6-15 hal per hari dengan kapasitas 2000-5000 kata (Gile, 1995:111). Kemudian, ia pun dapat melakukan penerjemahan di manapun dan dapat menggunakan referensi bahkan bertanya kepada teman atau ahli terkait (Suryawinata & Hariyanto, 2003:25). Sementara, masih menurut Gile (1995:112), penerjemahan lisan bekerja dalam waktu yang sangat terbatas 10 menit hingga 1 jam dilakukan dan dengan kecepatan rata-rata 100-200 kata permenit. Kemudian mereka berkerja di tempat khusus (booth) atau di ruang yang sama dengan pembicara. Walaupun memungkinkan untuk bertanya atau mencari referensi, tetapi mereka berisiko kehilangan informasi berikutnya, kecuali untuk data khusus seperti istilah teknis, nama, angka, dll.

Kedua, dalam penerjemahan tulis, penerjemah dapat membaca hasil terjemahannya kemudian melakukan revisi terhadap teks yang telah diterjemahkan dan menulis ulang kembali. Kegiatan ini bisa diulang hingga diperoleh terjemahan terbaik dan dapat diterima. Sementara dalam penerjemahan lisan, penerjemah memiliki waktu yang sangat terbatas bahkan tidak memungkinkan revisi berulangkali seperti penerjemahan tulis tersebut. Sehingga penerjemah lisan terkadang tidak begitu yakin apakah ia telah menyampaikan pesan seperti pada Bsu (Gile, 1995:113).

Ketiga, situasi kerja dalam penerjemahan lisan secara psikologis sangat penuh tekanan (stressful), dan didera demam panggung. Sementara penerjemah tulis tidak merasakan hal ini kecuali desakan deadline. Terakhir, terkait pengujian keberterimaan (acceptability) penerjemahan lisan memiliki kesempatan berbeda untuk mengujinya tergantung jenis pengalihbahasaan yang mereka lakukan. Pengalihan simultan hanya satu hingga tiga unit penerjemahan, sementara konsekutif memiliki kesempatan yang lebih banyak (Gile, 1995:113). Hal ini terikat kemampuan mengingat, kelancaran dan kecepatan dalam menyampaikan terjemahan. Sementara penerjemahan tulis tidak merasakan hal tidak tersebut.

Tambahan, terkait dengan situasi kerja dalam penerjemahan dan pengalihbahasaan, menurut Anderson (dalam Nababan, 2003) juga memberikan dampak berbeda antar penerjemah tulis dan lisan. Penerjemah lisan terkait hubungan sosialnya dan pembicara, bisa bersifat partisipan yang memihak atau bersifat netral (tidak berpihak). Hal ini dimungkinkan jika ia mewakili negaranya maka mau tidak mau ada unsur kepentingan negara yang harus dia pahami dari segi bahasa tubuh, intonasi, dan makna implisit khusus yang disampaikan. Namun hal ini tidak akan terjadi jika ia hanya mediator umum yang tidak memiliki kepentingan khusus. Sementara dalam penerjemahan tulis kita tidak menemukan keberpihakan penerjemah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s